Gerald Situmorang – Solitude | Menonton Imajinasi Kesendirian

sudutdengar_geraldsitumorang_solitude

Mungkin orang Indonesia sulit untuk melafalkan nama barat, karena itu Gerald Situmorang mengambil sebagian huruf depan dari dua kata namanya menjadi GeSit. Karena nama ini juga mungkin, dia lincah bermusik, sebagai pemain bass di Barasuara, memproduseri album Monita Tahalea, serta berkolaborasi dengan banyak musisi lainnya.

Karena lincah juga, dia membuat album solonya sendiri dalam arti sebenarnya. Sendiri dia memainkan gitar akustiknya di album Solitude. Mungkin karena dia menikmati kesendiriannya, album ini diberi nama Solitude.

Mendengarkan album memunculkan imajinasi menonton GeSit memainkan gitar akustiknya, sambil dia duduk membelakangi penonton, di sebuah pondok kecil dengan tiga jendela di sebelah kanan, kiri dan depan si pemetik gitar. Tapi GeSit sendiri tidak menyadari atau tidak peduli adanya penonton di sekitarnya. Mukanya tidak pernah terlihat, tabir transparan merupakan pemisah antara dia dan penonton. Dia ada di sana, tapi kita sebagai penonton membiarkan dia asyik dengan kesendiriannya. Kita pun tidak mau menggangu dia dengan pekikan tinggi menonton superstar. Kita biarkan dia mengalir.

Sementara tiga jendela di pondok itu memperlihatkan suasana yang sedang terjadi seiring dengan lagu yang dia mainkan. Di balik jendela kita bisa menyaksikan suasana pagi bunga bermekaran. Kita juga bisa lihat di salah satu pohon di luarnya tergantung sebuah ayunan yang dimainkan oleh seorang anak yang terlihat sangat riang.

Anak itu menyapa orang-orang yang lewat dengan ramah dan gembira sambil terus bermain ayunan atau kalau sedang lelah dia bergulingan di rumput menikmati awan di atasnya. Namun sebenarnya dia sendiri menunggu entah sesuatu atau seseorang yang diharapkannya akan datang.

Sesekali terlihat kegundahan di wajahnya karena yang ditunggu tak kunjung datang. Kegelisahan itu hanya terlihat sekilas namun dalam, kemudian dia kembali bermain ditemani alam.

Sampai GeSit selesai memainkan seluruh nomornya, dia tetap duduk di sana. Penonton pun berbalik keluar pintu meninggalkan dia dalam kesendiriannya. Tak ada tepuk tangan walaupun kita baru saja menonton suatu keping kehidupan yang menawan.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail