Hammersonic 2015 Dengan Band-Band kejutan Dan Masalah Yang Sama

Hammersonic 2015 630

Hujan kembali mengguyur di akhir pekan. Dari malam sampai pagi sebelum perhelatan metal terbesar se-Asia Tenggara dibuka di siang hari, tetes hujan masih membasahi lapangan luas yang menampung sekitar 15.000 penontonnya. Walaupun panas cukup terik, tapi tidak sanggup untuk mengeringkan segenap lapangan. Di beberapa titik, di depan dua panggung megah Hammer dan Sonic, kubangan lumpur terbentuk.

Tapi antusiasme mengalahkan segalanya. Apa artinya sepatu dan kaki yang kotor terjerembab lumpur, kalau hari itu – ya mungkin hanya di hari itu sepanjang tahun ini – kita bersama-sama merayakan kegembiraan menonton dan menikmati metal. Dari tahun ke tahun Hammersonic bisa memberikan kepuasan. Dengan variasi line-up, saya datang dengan keyakinan pengalaman sebelumnya akan terjadi lagi. Termasuk pengalaman bergelut dengan lumpur.

Agenda keluarga yang padat serta ketahanan fisik membuat saya untuk memilih datang saat hari mulai gelap. Saat 10 band dari ranah internasional menggempur kegelapan.

Masalah tata lampu yang menyilaukan penonton hampir tidak lagi menjadi masalah tahun ini. Cuma sedikit waktu, dari total tujuh jam saya di teritori metal, membuat soal lampu terlupakan.

Tata suara masih menjadi masalah yang cukup akut. Di satu panggung, sepertinya masalah itu selalu muncul. Aksi paten dari Warbringer yang membangkitkan kembali ruh thrash dari era 80-an, Iginite yang permainannya menyulut serta Unearth yang merupakan kejutan karena kerapatannya, harus berjuang keras untuk membuat penonton bergelora. Suara yang keluar dari pengeras suara tidak menendang gendang telinga sampai berdenging.

Di panggung satunya lagi, yang cenderung dapat mengeluarkan gemuruh suara lebih baik, ternyata memakan korban juga. Vader yang mengutamakan teknis di atas nada-nada death metal, menjadi sulit untuk didengarkan. Suara baru membaik ketika sisa waktu tinggal 10 menit.

Pujian dan juga kejutan lainnya datang dari band industrial Deathstar. Suaranya bergemerincing membuat dada bergetar. Karisma vokalisnya yang seperti Marilyn Manson dalam format lebih menawan, menyihir penonton untuk berjingkrak dan mengelukannya. Saya tidak pernah menyangka suatu band industrial bisa mendapatkan perhatian lebih dari penonton yang kebanyakan menanti death metal dan metalcore.

Kejutan lainnya datang dalam bentuk death metal progresif, The Faceless. Mengambil sedikit waktu lebih untuk menyempurnakan suara yang akan menyembur, band ini berhasil membuat bengong penonton. Benturan nada yang kompleks bisa membuat band ini juga bisa tampil di Java Jazz Festival yang kebetulan berlangsung di hari yang sama.

Sebagai legenda, Terrorizer dan Mayhem diberikan waktu yang cukup. Terrorizer mendapatkan sambutan hangat pada nomor-nomor yang diambil dari album klasiknya World Downfall. Sedangkan Mayhem menebar horror di atas panggung dengan black metal yang magis serta properti yang khas black metal.

Sampai puncaknya, Lamb Of God. Setelah enam tahun unit dari Richmond, Virginia ini kembali untuk membuat keriuhan. Walaupun didera suara yang tidak memekakkan telinga, Lamb Of God berhasil membuat lapangan bergetar. Tidak ada yang diam. Kalau tidak turut berputar di pusaran mosh pit, penonton melompat dan mengacungkan tanduknya. Lumpur dilupakan total.

Saat lampu untuk penonton dinyalakan, menggiring penonton pulang keluar gerbang. Terlihat pemandangan yang sama dengan tahun-tahun lalu penyelenggaraan Hammersonic. Sampah berserakan. Botol minuman serta bungkus makanan terinjak-injak oleh kaki. Meninggalkan pertanyaan, apakah tahun depan masalah sampah lagi?

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail