Java Jazz 2014 Yang Jadwalnya Tidak Tepat Waktu

Festival jazz yang pernah dan terakhir kali saya datangi adalah Jak Jazz yang sepertinya sekitar dua dekade yang lalu. Java Jazz, festival jazz dengan nama terbesar ini belum pernah saya sambangi. Karena itu, untuk pertama kalinya mendatangi Java Jazz adalah pengalaman baru, mengingat dua puluh tahun adalah waktu yang lama dan tentunya ada perkembangan dalam sebuah perhelatan festival jazz.

Mendekati venue di Kemayoran, antrian kendaraan sudah panjang. Saya sadar saya datang terlambat, apalagi di hari Jumat jam 8 malam, sepertinya mayoritas pengunjung Java Jazz menggunakan kendaraan pribadi terlihat dari hamparan mobil yang berada di pinggir jalan dan di area parkir. Saya baru bisa memasuki arena sekitar jam 9 malam, setelah mendapatkan tempat parkir yang lumayan jauh dari pintu masuk.

Menilik dari jadwalnya saya perkirakan saya bisa mendapatkan tiga pertunjukan malam itu. Dalam rencana ada 5 Wanita, Jamie Cullum dan Dave Koz. Terlalu standar untuk jazz, tapi untuk mengejar ketinggalan mulailah pelan-pelan. Memasuki hall tempat pertunjukan 5 Wanita, saya terheran-heran melihat banyaknya penonton yang duduk di lantai. Saya pikir mungkin mereka akan berdiri ketika pertunjukan berlangsung, tapi saya curiga mereka tidak akan berdiri. Kecurigaan saya benar, setengah jam terlambat dari jadwal, 5 Wanita naik panggung dengan membawakan lagu-lagu pop yang popular, penonton tidak beranjak dari pantatnya. Hanya beberapa yang menyerbu ke depan panggung, berdiri untuk mendapatkan titik foto yang baik. Walaupun 5 Wanita berusaha untuk menggoyang penonton, tapi masih banyak yang tetap duduk hanya menggoyang badannya sedikit.

DSCN2185

Karena jadwal terlambat, maka saya hanya menikmati setengah pertunjukan untuk mengejar pertunjukan lain, pertunjukan spesial Jamie Cullum yang perlu menambah ongkos tiket untuk menontonnya. Betapa kaget saya melihat antrian panjang masuk ke pertunjukan Jamie Cullum. Mendengar pertunjukan belum dimulai (padahal jam menunjukkan sudah waktunya), saya berinisiatif untuk makan malam dulu. Selesai makan malam, ternyata antrian juga masih panjang, walaupun ternyata setelah di dalam antrian, pergerakan menuju pintu masuk cukup cepat. Yang mengagetkan lagi, pertunjukan masih belum juga dimulai. Mendekati tengah malam, terlambat satu setengah jam, pertunjukan baru dimulai. Penonton yang gelisah langsung saja melemparkan kesalahan kepada mantan pejabat yang diduga harus menunggu kedatangannya sebelum pertunjukan bisa dimulai.

Bagusnya Jamie Cullum memberikan pertunjukan yang penuh energi dan energinya terpantulkan kembali oleh penonton. Dia masih saja bengal, tapi tidak terlalu banyak bergerak dibandingkan sebelumnya. Mungkin sudah tambah tua, seperti yang dia kemukakan di atas panggung.

Triknya masih tetap banyak. Tidak hanya tuts piano yang dimainkan. Senar di grand pianonya ikut dipetik dan diketuk. Bdannya juga dipukul bagaikan perkusi. Buat dia semua bagian piano bisa dimainkan. Atraksinya ini berhasil menuai tepuk tangan meriah dari penonton.

DSCN2191

Karena menikmati sajian Jamie Cullum dan jadwalnya terlambat, alhasil saya melewatkan Dave Koz. Walau di panggung Jamie Cullum belum mengeluarkan semua senjatanya, saya keluar untuk mengejar pertunjukan lainnya. Sayangnya dave Koz baru saja menyelesaikan setnya ketika saya baru melewati pintu depan. Hanya dua pertunjukan daya dapatkan di hari pertama.

Hari kedua adalah nestapa lainnya lagi. Sepertinya hanya panggung-panggung terbuka yang mengikuti jadwal dengan baik. Sekilas saya sempat menonton pertunjukan JKT48 dan Drew, yang walau bukan jazz mengumpulkan banyak massa. Sedangkan pertunjukan di dalam ruangan, jadwalnya tidak karuan.

Karena mengharapkan sesuai jadwal,saya sudah punya rencana untuk melompat-lompat di beberapa pertunjukan. Nyatanya, gagal. Terlambat di satu tempat, berentet ke pertunjukan berikutnya. Pertunjukan yang sempat saya tangkap adalah Tania Maria, Keiko Matsui, Snarky Puppy dan Indra Lesmana & Maurice Brown Project. Itu pun sepotong-sepotong tidak tuntas. Saya pusing sendiri, merasa terlunta-lunta di area JIExpo yang luas dilingkupi dentuman ramainya eksibisi di tengah lapangan. Mengingat ini, saya memtusukan untuk tidak berangkat di hari ketiga.

Mungkin yang perlu disalahkan di sini adalah diri saya sendiri. Untuk pengalaman yang pertama kali, saya terlalu awam dengan lingkungan Java Jazz. Melihat dari pengalaman mengunjungi produksi Java Festival Production lainnya, saya menganggap akan terjadi hal yang sama. Saya belum tau triknya menikmati Java Jazz. Sebagai festival Jazz yang dapat menarik massa begitu besar dan kembali dikunjungi setiap tahunnya, tentu mereka, para penggemar tidak salah. Saya yang salah, yang tidak tahu. Dan semoga saya bisa kembali lagi tahun depan untuk menikmatinya.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail