Masa Depan Format Musik Yang (Belum) Pasti

itunes

Kenyataannya, media sangat berisik beradu argumen. Mereka mengumpulkan pendapat para ahli, tren yang dibuat oleh penyedia teknologi agar produknya dibeli, dan kemudian media membuat analisa yang mengesahkan pandangannya terhadap apa yang akan hilang dan apa yang akan dipakai di masa depan.

Diramalkan cetakan majalah dan koran akan hilang dalam waktu dekat, digantikan dalam format digital yang bisa dinikmati lewat layar-layar mobile di tangan. Diprediksi televisi tidak lagi layar datar di ruangan keluarga, televisi akan menjadi lebih personal dengan kemampuannya on-deman dan on the go melalui peranti mobile. Ada juga pengamatan dan penilaian bahwa untuk urusan musik, produk rekaman fisik akan mati dan radio akan ditinggal pergi.

Kenyataannya, semua itu belum juga terjadi.

Karena Sudutdengar membicarakan tentang musik, maka yang akan dibicarakan dalam posting ini adalah anomali pada masa depan musik. Disebut anomali di sini, karena kenyataan yang berbeda dengan ramalan dari media, pelaku bisnis dan tokoh terkemuka yang opini merupakan sabda bagi dunia.

Menurut sejarah, format produk rekaman musik cepat sekali berubah. Masing-masing format berumur sangat pendek. Dalam sejarahnya yang belum juga mencapai satu abad, beberapa format sudah berdatangan dan tumbang. Mulai dari piringan hitam, muncul kaset yang lebih murah, masuk ke era digital dengan compact disk, kemudian hilang fisiknya dengan semakin diminatinya MP3, dan yang digadang-gadang akan menjadi tren berikutnya adalah on-demand streaming.

Kenyataannya tidak selalu setiap muncul tren format yang baru kemudian yang lama hilang dan mati. Penggemar piringan hitam masih ada, bahkan juga muncul dari generasi yang lebih muda. Kaset yang dianggap produk rekaman paling busuk juga punya fansnya sendiri. Bahkan ada grup yang mengkhususkan diri untuk mengumpulkan artefak yang berasal dari kaset jaman bajakan. Penggila format CD juga belum punah. Perdagangan CD di kalangan genre tertentu secara panas terus berjalan di dunia maya, sementara toko fisik menghilang.

Kalau bicara Indonesia, negara yang penduduknya sangat menggemari gadget, MP3 bajakan secara liar berpindah-pindah diedarkan dari satu gadget ke gadget lainnya. iTunes yang belum lama diluncurkan di Indonesia belum tampak menunjukkan giginya sanggup menggeser produk bajakan.

Sedangkan layanan on-demand streaming masih jauh untuk digemari. Problem koneksi dan harga untuk berlangganan Internet menjadi kendala bagi format ini untuk menjadi juara di Indonesia. Apalagi konsep membayar musik yang di-stream dari Internet…hmmm ini konsep yang aneh buat Indonesia.

Tapi mungkin saja yang saya tulis ini salah. Mungkin saja tiba-tiba banyak orang mau mengeluarkan uang untuk membeli produk yang tidak bisa dipegang dan mau merogoh kocek untuk berlangganan radio dari Internet dengan fitur bisa memilih lagu. Namun ada satu hal yang pasti, tidak semuanya yang meredup kemudian mati. Produk fisik akan selalu ada. Bahkan mungkin bisa meraih jaman keemasannya kembali. Lagipula ini hanya ramalan yang belum pasti juga kebenarannya. Ini kenyataannya.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail