Metallica: Through The Never – Sensasi Yang Mirip Dengan Medium Berbeda

metallica through the never

Di panggung konser Metallica yang bukan 360 derajat, standarnya adalah tersedia layar besar LED di tengahnya. Selain memberikan efek kemegahan, layar besar ini sangat membantu penonton konser, terutama yang jauh di belakang karena biasanya konser Metallica penontonnya berjumlah puluhan ribu kepala, untuk melihat lebih detil. Bayangkan layar ini berpindah ke ruang gelap bioskop, ditambah tata suara prima. Pengalaman yang luar biasa.

Trauma dengan film Michael Jackson: Moonwalker, saya menghindari untuk menonton produk musik di bioskop, apa pun itu kemasannya. Tapi ini Metallica yang sebulan sebelumnya setelah 20 tahun datang lagi ke Jakarta. Di akhir pertunjukan langsungnya, di layar yang besar terpampang Metallica: Through The Never. Saya pikir kenapa tidak mencobanya.

Untung saya datang dengan harapan derendah-rendahnya. Apa sih yang bisa membuat film ini berbeda dengan DVD konser yang lebih seringnya membuat saya bosan dan hanya mencari lagu-lagu yang saya suka saja? Saat Metallica masuk ke panggung 360 derajat yang dibuat khusus untuk merayakan 30 tahun keeksisan mereka, pantat saya ingin diangkat dan mengacungkan simbol tanduk setinggi-tingginya.

Jalinan cerita linear yang berselang-seling di antara jalannya konser tidak perlu terlalu dipedulikan dan didiskusikan lebih lanjut. Aksinya dieksekusi dengan cermat, keseluruhannya absurd. Tidak perlu ditanyakan apa isi tas yang dengan keadaan hidup dan mati diperjuangkan untuk diantarkan ke arena konser (mirip seperti tidak perlu menanyakan apa isi tas di Pulp Fiction). Tidak perlu bingung mengapa ksatria hitam berkuda bisa dikalahkan dengan menghantamkan palu ke bumi. Tidak perlu ada pertanyaan lainnya. Fokus ke konsernya.

Set list dalam film konser ini berisikan lagu-lagu hits selama rentang karir Metallica. Hampir setiap albumnya terwakili, kecuali St Anger dan Lulu. Creeping Death adalah awalan terbaik. Saat penonton dalam film mengumandangkan die..die..die, saya yang berada dalam ruang bioskop yang tidak terlalu ramai, juga tergerak untuk turut serta.

Efek 3D berhasil dimanfaatkan dengan baik tanpa perlu mengumbar efek pop-out. Saat kamera ditempatkan di tengah penonton, terasa berada di tengah kerumunan. Saat kamera mendekati personil Metallica, terasa berdiri tepat dip agar pemisah antara penonton dan panggung. Saat kamera semakin menyorot personil Metallica lebih detil, terasa berada di tengah pit yang harga tiketnya bisa mencapai ratusan dolar.

Tambahannya lagi, di film konser ini, terdapat dua lagu yang dipetik dari album …And Justice For All. Dengan tata suara bioskop yang mahal, suara basnya sangat terdengar. Terbayang betapa megahnya kalau saja album itu di mixingnya suara bas lebih keluar.

Dalam 90 menit saya merasa berada sedang menonton Metallica secara langsung di tiga spot sekaligus, di tengah kerumunan, di pagar pembatas dan pit. Yang membedakannya adalah tidak ada keringat yang mengalir. Saya dengan anteng memasang kaca mata 3D dan tangan sibuk meraup pop corn. Walaupun saya ingin sekali berteriak, dan saya tetap tidak berteriak sampai layar menampilkan panggung minus penonton dengan hanya berisikan Metallica memainkan Orion menutup film. Saya tetap menyimpan simbol tanduk di pegangan kursi.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail