The Devil Wears Prada Yang Beri Pengalaman Baru

IMG-20140130-00089

Band ini terdengar bising, mengedepankan distorsi dan punya vokal growl. Karakter seperti ini dimiliki oleh band metal bukan? Tapi penggemarnya berasal dari kawanan yang berbeda dengan penggemar metal. Tidak terlihat muka-muka yang tingkat kehadirannya tinggi untuk rentetan kedatangan band-band metal. Yang saya lihat adalah kumpulan yang berbeda. Ini adalah pengalaman baru setelah sebelumnya selalu gagal untuk menonton gig band post hardcore.

Sejauh pandangan, tidak jauh berbeda dengan kerumunan penonton metal. Mereka menggunakan kaos band, dengan warna yang lebih bervariasi, karena band post hardcore menawarkan kaos selain warna hitam. Mereka juga sangat bersemangat ketika dentuman distorsi menghunjam. Mereka menyanyikan liriknya seakan ini adalah band yang akan mereka bawa sampai mati. Serta tidak lupa, sebagai tontonan musik keras ada wall of death dan pit. O iya sebagian besar mereka sangat muda usia, sehingga saya seperti berada di dunia paralel yang berbeda. Saya bisa melihatnya tapi tidak bisa masuk ke dalamnya.

Gagal untuk memulai gig dari jam 8:18 malam, sesuai dengan judul album terakhir The Devil Wears Prada, ini sudah diperkirakan sebelumnya. Yang tidak diperkirakan adalah band ini tidak segila band-band post hardcore yang banyak yang saya tonton lewat Internet. Band yang beranggotakan 6 orang ini cukup liar, tapi cukup sampai cukup saja. Vokalisnya, Mike Hranica sangat rajin menjelajahi panggung sampai naik ke satu tiang di panggung. Gitaris dan pemegang bass tidak terlalu banyak bergerak, tidak mengeluarkan jurus manuver ala band post hardcore lainnya. Mereka fokus untuk memainkan lagu-lagunya dan atraksi menjadi prioritas berikutnya.

Dimulai dengan Gloom yang juga merupakan nomor pembuka di album 8:18 band ini langsung membuat panas barisan penonton. Riak pit masih dalam ukuran kecil. Buat saya, nomor-nomor yang ada di album terakhir mereka adalah yang saya tunggu karena menurut saya ini adalah album terbaik The Devil Wears Prada sejauh ini. First Sight memang mendapatkan sambutan meriah, tapi tidak sama dengan yang terjadi pada nomor Sailor’s Prayer.

Kerumunan penonton lebih menggila pada nomor-nomor yang dimuat di album terdahulu yang saya pernah dengar tapi tidak sepenuhnya menyangkut di kepala. Mereka meneriakkan lirik yang tidak saya kenal dan mereka menuju ke titik klimaks.

Ini adalah jamannya Internet, jamannya sebelum menonton gig mereka sudah memperhatikan set list yang dimainkan di arena sebelumnya. Di sekeliling saya, mereka sepertinya sudah hafal apa yang akan dimainkan dan apa nomor penutupnya. Cara menonton yang terencana seperti ini membuat pit yang juga terencana. Penonton tahu kapan harus melakukan wall of death, dan mereka menyimpan tenaga untuk membuat pit yang lebih besar di nomor puncak.

Penonton yang terencana, ini adalah pengalaman baru.

IMG-20140130-00084

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail