The Rain – Jabat Erat | Move On Dari Terlatih Patah Hati

sudutdengar_therain_jabaterat_review

Kalau saya punya single yang menjadi hit besar sebelum jauh merilis albumnya, maka saya akan mempunyai beban berat untuk membuat satu album penuh. Itu yang terjadi dengan The Rain dengan single Terlatih Patah Hati. Ketika album penuhnya, Jabat Erat, akhirnya dirilis, saya berharap mendapatkan sensasi yang sama, sebanding dengan single Terlatih Patah Hati.

Terlatih Patah Hati memiliki semua yang diperlukan untuk sebuah lagu. Verse yang ringan dilanjutkan dengan bridge yang menghantarkan ke puncak, yaitu chorus yang mengundang paduan suara masif penonton ketika dinyanyikan di atas panggung. Sebagai nilai tambahan lagi, terdapat rasa koneksi dengan liriknya. Ehm banyak orang Indonesia senang dengan lagu patah hati, yang menyayat ataupun yang mengajak bangkit kembali tidak berlama-lama dirundung nestapa.

Saking hitnya Terlatih Patah Hati, saya sampai tidak terlalu mengikuti bahwa pasca single ini, kuartet berformasi vokal dan gitar, gitar, bass dan drum ini memiliki dua single lanjutan yang berbeda dengan single sebelumnya, Bahkan Jabat Erat pun baru saya tahu bukan album pertamanya, ketika menuliskan post ini. Karena itu, Jabat Erat merupakan pengalaman dengar pertama saya dengan The Rain.

Di trek pertama, harapan itu muncul ketika mendengar harmonisasi vokal di durasi pendek Ode Penyembuh Luka. Masuk ke nomor kedua, rasa shock mulai terjadi, kenapa tidak sesuai dengan ekspektasi? Berkunjung Ke Kotamu adalah bagaikan tribut kepada para pemusik legendaris Indonesia, Koes Plus.

Nomor berikutnya juga tidak jauh dari pengaruh Koes Plus dan The Beatles. Gagal Bersembunyi adalah nomor yang sarat dengan instrumen akustik. Namun mulai dari sini, saya mulai untuk ikhlas bahwa saya perlu untuk melepaskan ekpektasi bahwa The Rain haruslah Terlatih Patah Hati yang memiliki chorus menggemparkan arena. Gagal bersembunyi adalah nomor santai yang bisa dinyanyikan bersama dengan teman atau anggota keluarga. Chorusnya adalah tiupan angin semilir di ruang sudah sejuk dari sananya.

Lagu yang juga menarik untuk saya adalah 1995. Nomor sederhana yang mengingatkan saya akan versi super lunak ketika Billy Corgan bersantai di beranda rumah.

Dari 11 lagu di album Jabat Erat hampir semuanya senafas dengan nomor Berkunjung Ke Kotamu. Variasi yang diberikan adalah aransemen akustik, lagu sendu (Untuk Ayah Ibuku yang terlalu sendu) dan kompisisi elektrik sederhana.

Setelah mendengarkan berkali-kali – dengan bantuan anak usia 13 tahun – saya menyadari bahwa ekpektasi saya salah total. The Rain bukanlah band pop punk yang sangat pop. Kekuatan The Rain adalah kesederhanaan dan harmonisasi vokal. Ketika kedua hal ini terpadu maka yang tertinggal di kepala adalah chorus yang tidak mau pergi.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail