The Stone Roses Sang Legenda Diabadikan Dalam Format Dokumenter

Kalau mau jadi legenda, cukup buat dua album. Di panggung bergaya seperti monyet. Berasal dari Manchester. Bubar di saat muda dan puncaknya, untuk kemudian berbaikan dan reuni kala uban mulai bermunculan. Formula ini akan berujung pada pembuatan film dokumenter yang dipersembahkan untuk apa yang disebut sebagai cult band.

Sebut saja salah satu band yang mendapat perlakuan istimewa ini adalah The Stone Roses. Walaupun reuni mereka belum tentu akan menghasilkan satu album lagi, tetap saja pemujanya tidak peduli. Mereka yang pernah muda dan tidak berkesempatan untuk menontonnya secara langsung, beruntung karena band pujaan berkumpul lagi untuk memberikan kesempatan yang pernah penggemarnya sempat lupakan. Untuk membuatnya semakin abadi, tidak lagi cukup untuk menangkapnya dalam sajian live yang dimampatkan dalam cakram padat. Cara untuk menaikkannya ke taraf dewa, adalah dokumenter.

Kaum hipster yang haus akan pemujaan, akan menempatkan dokumenter The Stone Roses ini di atas altarnya. Apa pun isi dan pesan dalam dokumenternya.

Ditayangkan perdana di Manchester pada tanggal 30 Mei. Mungkin saja penggemarnya di Indonesia mampu untuk membuat dokumenternya ditayangkan di Jakarta, atau Bandung.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail