The Trees And the Wild – Zaman, Zaman | Berdesir Meniup Hati

sudutdengar_thetreesandthewild_zamanzaman

Melalui satu albumnya, kelompok ini mendapatkan titel cult, sang maha yang dielu-elukan oleh sekelompok kecil aliran keras, dibandingkan segerombolan beringas penikmat musik cetakan supermarket industri. Perlu tujuh tahun, setelah album debutnya di tahun 2009, untuk merilis album kedua. Penggemarnya, berteriak akhirnya…saat mengetahui album berikutnya Zaman, Zaman akan dikeluarkan. The Trees And The Wild bukan nama asing buat saya, kerap kali namanya muncul dari literatur singkat digital. Namun hanya ada satu tapi. Tapi saya sama sekali belum pernah mendengarkan album mereka.

Zaman, Zaman adalah pengalaman pertama saya. Terus terang, dari sekali dengar, adalah tanda tanya yang hinggap di kelapa, mengapa grup ini menjadi legendaris, apakah ini cukup untuk membuat mereka dipuja seperti pendekar lihai yang menghilang sejenak dari dunia persilatan untuk mengasah ajiannya? Apalagi, saya harus terus terang lagi, soundscape dan drone (walaupun ini kadar ringan dibandingkan Sun O)))) bukanlah teman saya minum teh setiap hari.

Mungkin kuping saya sedang banyak kotorannya, dan hati saya sedang gundah, karena dengar pertama terasa membingungkan. Kali kedua, saya putar di mobil ketika saya sedang hendak menuju ke suatu tempat menembus belantara macet Jakarta. Di kali ini lebih parah lagi, tingkah polah pengedara lain lebih membekas dibandingkan tujuh lagu yang berdetak selama 53 menit.

Saya mulai merasa ini akan menjadi topik Suffocation berikutnya. Semua orang bilang album mereka harus didengarkan, dan saya tidak mendapatkan rasanya sama sekali.

Seperti halnya Suffocation, saya tidak menyerah. Waktu lain saya sediakan. Cara lain saya siapkan.

Ruangan kerja mungil saya tutup. Headphone berperedam suara luar saya tangkupkan di kepala. Yang lebih utama, hati saya bukakan lebih lebar.

Struktur lagunya yang sering mengulang nada mulai berdesir masuk. Dimulai dari bertiup pelan, untuk kemudian berlanjut bergemuruh seakan badai menghantamkan gadanya. Di Empati Tamako, tiupan badai adalah puncaknya yang tetesan derasnya berhenti seketika, langsung berganti ke Srangan disambut hawa setelah hujan yang lirih dan ayem.

Keunikan dari The Trees And The Wild adalah komposisinya yang melingkupi rasa. Kalau rasa saya bisa dibentuk menjadi sebuah obyek, maka rasa saya mengambang ditahan oleh gelembung nada-nada The Trees And The Wild. Gelembung ini tidak berdiam saja, gelembung ini turut terbang mengarungi kegelapan, lambai daun, songsong terbitnya matahari, panasnya di kala puncak dan perayaan.

Dari satu hembusan ke hati, rasa ini berpetualang nun jauh. Untuk kemudian kembali ruang kerja saya yang mungil.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail