Tidak Peduli Dengan Komentar Yang Lain, Ini Bon Jovi

Bon Jovi - GBK - 11 Sep 15 - 540

Walaupun gig Bon Jovi di akhir pekan lalu berhasil meludeskan tiket sehingga tanah sakral stadion Gelora Bung Karno dipenuhi manusia, tapi di luar stadion (bahkan di dalam juga) terdapat pertanyaan besar apakah Bon Jovi masih sesakti 20 tahun yang lalu? Kalau dikumpulkan menjadi kesimpulan terdapat dua pertanyaan, apakah Jon yang rambutnya sudah abu-abu masih bisa menarik suara bernada tinggi dan apakah tanpa Richie Sambora gig masih bertaji?

Kenyataannya memang seperti di gig sebelumnya yang bisa dilihat di layanan streaming video, Jon sudah berumur dan vokalnya tidak lagi terjaga. Kedua gitaris yang mengisi posisi Richie Sambora belum bisa menutup lubang besar yang menganga.

Tapi sepanjang dua jam saat Bon Jovi di atas panggung, saya tidak lagi peduli dengan komentar-komentar itu. Baik nomor lama maupun nomor baru, yang membuat banyak orang cukup bengong karena porsi lagu lama dan lagu baru yang berimbang, saya terus menyerukan liriknya dan menggerakkan badan membiarkan keringat deras mengalir.

Adalah masuk akal Jon mengimbangi porsi lagu lama dengan beberapa lagu baru. Semenjak album Lost Highway, Jon bernyanyi di nada-nada yang lebih rendah. Nada-nada yang sanggup dia lantunkan di atas panggung.

Sementara untuk nomor-nomor lama, Jon harus bekerja keras, terlalu keras malahan. Dia menjadi tidak banyak bergerak, terpaku di depan microphone berjuang melawan dirinya sendiri.

Kala dia tidak harus bernyanyi, senyuman, monyong bibirnya dan goyangan pantatnya masih maut. Layar raksasa yang diposisikan mirip dengan layar vertikal telepon pintar berhasil dengan jelas menangkap wajah Jon yang membuat penonton wanita berteriak lebih kencang dan butir keringatnya yang membuat media sosial gempar bahwa mereka rela untuk mengelap badannya.

Puncaknya adalah nomor-nomor kondang lama yang membuat stadion GBK bergetar. Suara yang dikeluarkan penonton sanggup untuk mengalahkan suara Jon yang seringkali tidak pada nadanya.

Di saat itu penonton, termasuk saya, sudah tidak lagi peduli apakah Jon membawakan lagu itu dengan baik, apakah Phil X sanggup menyamai karisma Richie Sambora. Ini adalah lagu-lagu yang mengisi hidup saya. Lagu-lagu yang mengantarkan saya, beserta pacar, 20 tahun lalu datang mengantri masuk ke arena di Ancol saat matahari masih berada di atas kepala.

Saya dan pacar yang sekarang sudah menjadi istri, berteriak sekeras-kerasnya membantu Jon untuk menyelesaikan lagu-lagu yang sekarang menjadi sulit untuk dibawakan olehnya. Di saat gig berakhir, Jon tersenyum sangat lebar. Mungkin tadinya dia ragu apakah dia masih dicintai, dan setelah dia melihat sambutan Jakarta yang luar biasa, semangatnya untuk menuntaskan tur Asia semakin meningkat.

Walaupun saya harus menembus macet untuk pulang ke rumah sampai larut, saya tidak peduli. Walaupun saya letih dan komentar-komentar itu terbukti, saya tidak peduli. Terdapat momen-momen indah di malam itu yang melengkapi soundtrack hidup saya. Ini Bon Jovi.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail