Tiga Jam Bersama Dream Theater Di Bawah Awan Yang Terang

dream theater gig 2014 edit

Mengherankan apa yang dilakukan oleh Dream Theater ketika merilis album live Breaking The Fourth Wall. Saya sulit untuk mencari apa yang menjadi istimewa dari album live ini, mengingat setiap album live dari Dream Theater – untuk band yang sangat rajin menelurkan album live hampir di setiap rilisan album studionya – selalu menyediakan sudut pandang atau dengar yang berbeda. Dream Theater bermain dengan dukungan civitas akademika Berklee Collage Of Music bukanlah suatu keistimewaan besar buat saya.

Sampai saya sadar, seorang teman yang merupakan progger sejati berkomentar untuk menekuni album live ini sebelum menonton konser Dream Theater di Lapangan D Senayan. Setlistnya akan sama persis, katanya. Ini berarti baru pertama kalinya Dream Theater mengeluarkan album live di tengah, atau lebih tepatnya hampir di penghujung rangkaian tur. Dan untuk pertama kalinya, dari awal sampai akhir tur (mungkin), setlist yang dimainkan akan sama persis.

Ini mendobrak tradisi Dream Theater yang selalu menghindari setlist yang sama. Terdapat setlist utama, dan beberapa lagu yang bisa dibongkar, begitu biasanya mereka melakukan tur. Untuk band yang yang seringkali menyelipkan pesan yang tidak tertulis, cara ini seperti untuk menyampaikan pesan bahwa mereka sudah sepenuhnya lepas dari Mike Portnoy yang terobsesi dengan setlist. Mereka bebas untuk memainkan setlist yang sama setiap malamnya.

Bagaimanapun ini menjadi malam yang istimewa buat penggemar Dream Theater yang sudah merogoh koceknya cukup dalam dan bersedia untuk mengantri lebih awal untuk mendapatkan posisi enak menonton akrobatik dewa-dewa. Di kali kedua ini, format yang mereka bawakan adalah An Evening With Dream Theater yaitu tanpa band pembuka, tiga jam musik termasuk 15 menit istirahat antar babak yang tidak lagi kosong.

Setelah sekitar 20 menit disuguhi intro yang membosankan, akhirnya layar LED cinemascope yang menjadi latar panggung memutar perjalanan album cover Dream Theater dari When Dream And Day Unite sampai album terkini, album studio ke-12, S/T Dream Theater. Pada pukul 20.00 babak pertama dimulai.

Kelimanya tidak menunjukkan tampilan yang jauh berbeda dibanding saat mereka tampil di Jakarta pertama kali dua tahun lalu. John Myung, tidak pernah berubah. Mike Mangini, tidak kelihatan berbeda. James LaBrie, terlihat lebih tua. Jordan Rudess, dengan jenggot putih lebih panjang semakin menjiwai karakter penyihirnya. Dan John Petrucci yang kelihatan jauh berbeda, rambut lebih panjang dan jenggot super tebal seperti manusia yang baru keluar dari gua setelah musim dingin panjang.

Babak pertama lebih banyak memainkan nomor-nomor dari dua album terakhir, menyisakan The Shattered Fortress dan Trial Of Tears dari era Portnoy. Dream Theater adalah sedikit band yang mempunya karier panjang, yang di setiap turnya berani untuk memasukkan nomor dari album-album terbaru. Mereka tahu bahwa penontonnya, sebagian besar selalu mengikuti karirnya, sehingga penonton tidak masalah untuk diasupi lagu terbaru. Bahkan untuk tur kali ini, nomor-nomor hit yang sering mereka mainkan, dihapus dari daftar. Tidak ada Spirit Carries On, tidak ada Six Degrees Of Inner Turbulance dan bahkan tidak ada sama sekali dari Images And Words.

Buat penggemarnya setlist yang mereka mainkan malam itu tidak ada masalah. Tapi buat yang hanya sekedar mencari Metropolis, yang mereka dapatkan adalah penggalan dari Metropolis Pt 2.

Babak pertama selesai dengan memuaskan. Performa panggung tidak jauh berbeda dengan tampilan mereka sebelumnya di Ancol. Kali ini, sound yang dimuntahkan sangat memuaskan. Kencang tapi tidak mengiris kuping. Semua instrumen. terdengar dengan baik. John Myung malam itu terdengar buas dengan bassnya. Walaupun sesekali suara yang dikeluarkan tertiup angin, energinya sampai membentang di lapangan luas. Saya teringat apa yang dikatakan oleh salah satu teman menonton Dream Theater di Ancol, bahwa Dream Theater lebih cocok dimainkan di ruang tertutup.

Di antara babak, Dream Theater tidak membuat penonton mati kebosanan. Di sepuluh menit terakhir menjelang babak kedua dimulai. Ditampilkan YouTube mix buatan fans yang mengundang tawa. Ditampilkan parodi Dream Theater, iklan palsu penjualan action figure dan beberapa cover yang mengundang kekaguman bahwa band ini memang merupakan band metal progresif terbesar saat ini. Yang mencuri perhatian saya adalah terdapat clip yang memperlihatkan John Petrucci dan James LaBrie tertawa sangat lepas. Ini lagi-lagi seperti menyindir drummer pendahulunya yang sangat serius sehingga tidak memberikan ruang untuk bercanda dan kesalahan.

Babak kedua adalah perayaan dari 20 tahun peluncuran album tergelap mereka Awake. Lima lagu dimainkan ditutup dengan Space-Dye Vest yang sudah sangat lama tidak dimainkan di atas panggung. Di babak pertama, James LaBrie kerap menyimpan suaranya. Daripada mengambil nada tinggi, dia sering mengambil nada rendah. Di babak kedua, James LaBrie mengubah keadaan. Nada-nada tinggi disikatnya. Di nada yang seharusnya rendah di versi album, dia naikkan tensinya. Lima lagu tapi cukup untuk mendapatkan pengalaman Awake secara keseluruhan.

Seperti tradisi mereka, babak kedua ditutup dengan lagu epik dari album paling baru. Ini berarti Illumination Theory. Saat mendengarkan versi studio, saya tidak terlalu melihat nomor ini sebagai nomor yang penting. Tapi saat dimainkan di atas panggung, saya baru tahu tingkat kelayakannya. Teknik tingkat tinggi. Bahkan di saat mereka mencoba bermain-main dengan tren post hardcore, mereka tetap bisa membubuhkan tanda tangan Dream Theater.

Babak tambahan adalah babak penentuan untuk menambahkan puncak perayaan progresif. Tahun ini menandai 15 tahun sejak dirilisnya satu-satunya album konsep Dream Theater, Metropolis Pt. 2: Scenes From A Memory. Tidak ada yang lebih memuaskan selain dua nomor instrumentalia utamanya dimainkan dan ditutup dengan Finally Free. Lagi-lagi saya mendapatkan pengalaman mini untuk mendapatkan sajian satu album secara keseluruhan.

Tiga jam sampai pada akhirnya. Ketika lima dewa ini siap terbang lagi meninggalkan kita, membungkukkan badan dengan rendah hati ke arah penonton, cuaca berteman baik dengan penggemar Dream Theater. Tidak ada setitik air pun jatuh di Lapangan D Senayan. Saat James LaBrie menyanyikan “It’s raining, raining, on the streets of Jakarta,” sempat saya melirik ke atas dan melihat awan masih cerah bersahabat walau mendengar di tempat lain hujan deras mendera. An Evening With Dream Theater – Along For The Ride Tour di Jakarta tidak hanya kedatangan lima dewa, tapi juga ditemani satu dewa lagi, yaitu dewa cuaca.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail