Valerian – Stardust Revelation | Panggilan Untuk Berkuda dan Memenggal Kepala Naga

Valerian Stardust Revelation Review Album

Melihat dari jumlah penonton di dua pentas band power metal yang kalau di Eropa dapat memenuhi kelas arena, tapi tidak terjadi di Jakarta, genre ini bukanlah menjadi favorit penggemar musik Indonesia. Tapi musik bukanlah tentang sedang menjadi tren atau berapa banyak penonton yang dapat terkumpul di depan panggung, musik adalah mengenai rasa di dalam hati untuk dikeluarkan, untuk memainkannya.

Mungkin itu yang membuat Valerian mengerjakan album Stardust Revelation. Sebuah album power metal yang berisikan semua yang diperlukan dalam sebuah album power metal. Tendangan bass drum dobel, ada. Gitar yang tidak terlalu akrobatik tapi sanggup menyuarakan riff melodic, ada. Keyboards yang memberikan atmosfir fantasi, ada. Paduan vokal bombastis di chorus, ada.

Setelah intro yang cukup panjang, Valerian memulai perjalanannya untuk memenggal kepala naga. Symphony Of Endless Desire adalah lagu yang menunjukkan bahwa Valerian tida hanya sekedar bermain-main di sini, mereka serius memainkan power metal. Suasana klasik yang dibangun oleh orkestrasi keyboards akhirnya mengayun menuju chorus yang dapat menggerakan semangat prajurit untuk berderap perang. Vokalnya yang agak beriak seperti yang dimiliki oleh Tobias Sammet, menunjukkan bahwa di dalam fantasi terdapat juga karakter yang keras.

Di antara himpitan nomor-nomor bertempo cepat terdapat suatu keharusan dari album power metal untuk sedikit melambat, tanpa harus kehilangan tenaga. Walaupun tidak secepat nomor lainnya, title tracknya tidak dapat diremehkan. Seorang ksatria tetap dapat terlihat gagah di atas punggung kudanya yang melambatkan langkah kakinya.

Padahal power metal memiliki apa yang tidak dimiliki oleh lagu-lagu lainnya. Sisi melodinya sangat berlebihan sehingga tidak perlu ditanya lagi kemudahannya untuk didengar, serta memberikan rasa optimis menguak kegelapan daripada murung. Apakah karena isinya yang banyak menceritakan tentang sihir dan kerajaan membuat penggemarnya terdengar seperti orang aneh? Kembali ke paragraf pertama, kuping dan hati tidak bisa saling membohongi.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail